Jejak Sejarah Mbah Buyut Hasan: Warisan Perjuangan dan Kearifan Lokal di Tirtomoyo

11 Agustus 2025
TIRTA
Dibaca 15 Kali
Jejak Sejarah Mbah Buyut Hasan: Warisan Perjuangan dan Kearifan Lokal di Tirtomoyo

Di Desa Tirtomoyo, jejak sejarah masa lalu masih terasa hidup melalui cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat, salah satunya adalah kisah tentang Mbah Buyut Hasan, tokoh yang dipercaya memiliki keterkaitan erat dengan masa perjuangan Pangeran Diponegoro pada awal abad ke-19.

Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro merupakan salah satu perlawanan terbesar terhadap penjajahan Belanda, dan setelah Pangeran Diponegoro tertangkap, banyak pengikutnya melarikan diri dan menyebar ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, termasuk ke daerah yang kini menjadi bagian dari Tirtomoyo.

Mereka tidak hanya meneruskan perlawanan secara diam-diam, tetapi juga menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki keragaman kepercayaan seperti Hindu dan Buddha.

Masyarakat meyakini bahwa Mbah Buyut Hasan adalah salah satu dari pasukan tersebut yang berasal dari wilayah Jawa Tengah dan kemudian menetap di desa ini.

Namun, di masa itu pencatatan sejarah belum menjadi fokus utama, karena perhatian masyarakat masih terpusat pada upaya melepaskan diri dari penjajahan Belanda.

Akibatnya, banyak informasi sejarah yang tidak terdokumentasi secara tertulis dan hanya bertahan dalam bentuk cerita lisan.

Keberadaan makam Mbah Buyut Hasan sendiri juga menyimpan banyak misteri. Di punden tersebut terdapat dua makam yang sejajar dan diyakini merupakan makam suami istri.

Namun, masyarakat tidak memiliki data pasti mengenai siapa yang lebih dulu wafat dan tahun kematian mereka. Secara umum, banyak yang memperkirakan bahwa makam di sisi barat adalah yang lebih dahulu, tetapi tidak ada informasi pasti siapa yang dimakamkan di sisi tersebut.

Hingga kini, masyarakat Tirtomoyo masih menjaga dan merawat makam Mbah Buyut Hasan. Kegiatan doa bersama di makam tersebut rutin diadakan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Suro dan saat Jumat Legi.

Tradisi ini menjadi bagian dari bentuk penghormatan terhadap leluhur yang dianggap berjasa dalam membangun dan menjaga desa.

Menurut Bapak F selaku warga Dusun Pulesari, seluruh kegiatan dan perawatan situs makam dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

Bangunan di sekitar makam pun dibangun tanpa bantuan dari pemerintah, melainkan melalui gotong royong dan inisiatif masyarakat sendiri.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada Mbah Buyut Hasan dan para sesepuh desa lainnya, tetapi juga menjadi wujud kearifan lokal yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.

Selain doa dan ziarah, masyarakat juga menggelar acara khali atau slametan desa, sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap para pendahulu.

Acara haul ini dikemas dengan kegiatan khotmil Qur’an, yakni pembacaan Al-Qur’an secara bersama-sama untuk mendoakan para sesepuh, termasuk Mbah Buyut Hasan.

Jejak sejarah yang terekam dalam kehidupan masyarakat Tirtomoyo ini menunjukkan betapa pentingnya peran tradisi lisan dan praktik budaya dalam menjaga ingatan kolektif.

Meskipun tidak terdokumentasi secara resmi, kisah-kisah seperti tentang Mbah Buyut Hasan tetap hidup dan dihargai sebagai bagian dari warisan sejarah lokal.