Punden Mbah Sebo dan Rantih: Warisan Pasca-Perang Jawa dalam Ingatan dan Ritualitas Lokal

12 Agustus 2025
TIRTA
Dibaca 9 Kali
Punden Mbah Sebo dan Rantih: Warisan Pasca-Perang Jawa dalam Ingatan dan Ritualitas Lokal

Punden Mbah Sebo dan Rantih yang berada di Dusun Pulesari merupakan salah satu situs makam tua yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1835, tidak lama setelah berakhirnya Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Konflik besar tersebut berakhir pada tahun 1830 setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda. Dalam masa pelarian pasca-perang, sejumlah prajurit Diponegoro diduga melarikan diri dari wilayah Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Mereka menempuh perjalanan secara bertahap sejauh tiga hingga empat kilometer, dan di sepanjang jalur pelarian ini ditemukan sejumlah makam tua, termasuk yang berada di wilayah Singosari hingga Wajak, yang diyakini sebagai bagian dari jejak pelarian tersebut.

Punden ini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat. Setiap tahun, terutama pada peringatan 17 Agustus dan bulan Suro, warga mengadakan ritual di area punden.

Dulu, kegiatan tersebut disertai pertunjukan kesenian tradisional seperti tayuban, namun kini bergeser menjadi tahlilan dan doa bersama yang lebih bersifat religius.

Selain sebagai ruang peringatan, punden ini juga pernah difungsikan sebagai tempat berdoa untuk keselamatan dan penangkal wabah, seperti saat terjadi serangan wabah tikus.

Tradisi tahlilan secara rutin juga dilangsungkan pada hari-hari tertentu seperti Jumat Legi, yang menunjukkan kesinambungan antara nilai-nilai lokal dan praktik keagamaan masyarakat.

Tidak terdapat larangan atau mitos khusus yang membatasi kunjungan ke punden ini. Masyarakat dapat datang kapan saja untuk berziarah atau berdoa tanpa harus melalui ritual perizinan tertentu.

Namun, setiap kali akan digunakan untuk kegiatan bersama seperti tahlilan, masyarakat terlebih dahulu membersihkan area punden sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Praktik ini mencerminkan adanya kesadaran kolektif akan pentingnya merawat situs-situs bersejarah sekaligus mempertahankan tradisi spiritual yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.